Gilang Dibui 114 Hari Tanpa Dosa

Gilang Dibui 114 Hari Tanpa Dosa

Gilang Ilham Jaelani seorang pemuda umur l9 tahun karyawan sebuah Minimarket harus merasakan dinginnya bui penjara yang merenggut kebebasan dia sebagai manusia. Ini tentu ada sebabnya karena untuk mempertanggung jawabkan suatu perbuatan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya. Gilang dituduh terlibat dalam kasus pencurian, tapi setelah diselidiki ternyata tidak ada satu buktipun mengarah kepadanya. Dia hanya korban salah sebut salah satu dari tiga rekannya.

Gilang Dibui 114 Hari Tanpa Dosa

Menurut pakar, tindakan jaksa dan kepolisian dinilai berlebihan, karana tidak adanya alat bukti yang cukup untuk menahan Gilang di tingkat kepolisian.

“Profesionalitas jaksa atau kepolisian akan menentukan terjadinya peradilan-peradilan (sesat) yang dipaksakan,” ujar ahli hukum Abdul Fickar Hadjar.

Gilang sendiri dituduh terlibat dalam kasus pembobolan brankas ditempat ia bekerja pada tanggal 7 September 20l3. Uang dalam brankas tersebut jumlahnya Rp 5,7 juta hilang dan sudah dibagi-bagi oleh ketiga rekannya. Pemilik minimarket mengetahui kejadian tersebut melapor ke polisi dan langsung melakukan tindakan penangkapan. Keempatnya langsung dimasukkan kepenjara sejak 9 September 20l3 dan diperoses dalam berkas terpisah.

Setelah berkas penyidikan masuk ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur dan di laksanakan beberapa kali sidang ternyata Gilang tidak terbukti ikut terlibat dalam kasus pembobolan brankas tersebut. Pada tanggal 7 Januari 20l4 Gilang di bebaskan oleh pihak Pengadilan. Akan tetapi dari pihak Penuntut Umum dalam hal ini Jaksa tidak terima dan bersikeras bahwa Gilang ikut terlibat dalam pencurian itu. Dari pihak penuntut umum meminta supaya Gilang dipenjara selama 1 tahun.

Untuk kasus seperti yang dialami Gilang seharusnya tidak dilanjutkan, sebab tidak terpenuhinya unsur kejahatan yang didakwakan, sehingga perkara seperti ini hanya akan merugikan negara.

” Korban Peradilan sesat seperti Gilang hanya akan mengakibatkan terjadinya pelanggaran HAM dan merugikan negara dengan menyia-nyiakan waktu serta biaya sidang bagi sesuatu yang tidak bermanfaat,” tutup Fickar.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *